Showing posts with label Tourist Object. Show all posts
Showing posts with label Tourist Object. Show all posts

Thursday, May 21, 2009

Angkor Wat


Angkor Wat (or Angkor Vat) is a temple complex at Angkor, Cambodia, built for the king Suryavarman II in the early 12th century as his state temple and capital city. As the best-preserved temple at the site, it is the only one to have remained a significant religious centre since its foundation—first Hindu, dedicated to Vishnu, then Buddhist. The temple is the epitome of the high classical style of Khmer architecture. It has become a symbol of Cambodia, appearing on its national flag, and it is the country's prime attraction for visitors.

Angkor Wat combines two basic plans of Khmer temple architecture: the temple mountain and the later galleried temple, based on early South Indian architecture, with key features such as the Jagati. It is designed to represent Mount Meru, home of the devas in Hindu mythology: within a moat and an outer wall 3.6 kilometres (2.2 mi) long are three rectangular galleries, each raised above the next. At the centre of the temple stands a quincunx of towers. Unlike most Angkorian temples, Angkor Wat is oriented to the west; scholars are divided as to the significance of this. The temple is admired for the grandeur and harmony of the architecture, its extensive bas-reliefs and for the numerous devatas (guardian spirits) adorning its walls.

The modern name, Angkor Wat, in use by the 16th century, means "City Temple": Angkor is a vernacular form of the word nokor which comes from the Sanskrit word nagara (capital), while wat is the Khmer word for temple. Prior to this time the temple was known as Preah Pisnulok, after the posthumous title of its founder, Suryavarman II.

Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Angkor_Wat

Thursday, May 14, 2009

Eiffel Tower


Named after its designer, engineer Gustave Eiffel, the Eiffel Tower is the tallest building in Paris. More than 200,000,000 people have visited the tower since its construction in 1889, including 6,719,200 in 2006, making it the most visited paid monument in the world. Including the 24 m (79 ft) antenna, the structure is 324 m (1,063 ft) high (since 2000), which is equivalent to about 81 levels in a conventional building.

When the tower was completed in 1889 it was the world's tallest tower — a title it retained until 1930 when New York City's Chrysler Building (319 m — 1,047 ft tall) was completed. The tower is now the fifth-tallest structure in France and the tallest structure in Paris, with the second-tallest being the Tour Montparnasse (210 m — 689 ft), although that will soon be surpassed by Tour AXA (225.11 m — 738.36 ft).

The metal structure of the Eiffel Tower weighs 7,300 tonnes while the entire structure including non-metal components is approximately 10,000 tonnes. Depending on the ambient temperature, the top of the tower may shift away from the sun by up to 18 cm (7 in) because of thermal expansion of the metal on the side facing the sun. The tower also sways 6–7 cm (2–3 in) in the wind. As demonstration of the economy of design, if the 7300 tonnes of the metal structure were melted down it would fill the 125 meter square base to a depth of only 6 cm (2.36 in), assuming a density of the metal to be 7.8 tonnes per cubic meter. The tower has a mass less than the mass of the air contained in a cylinder of the same dimensions, that is 324 meters high and 88.3 meters in radius. The weight of the tower is 10,100 tonnes compared to 10,265 tonnes of air.

The first and second levels are accessible by stairways and lifts. A ticket booth at the south tower base sells tickets to access the stairs which begin at that location. At the first platform the stairs continue up from the east tower and the third level summit is only accessible by lift. From the first or second platform the stairs are open for anyone to ascend or descend regardless of whether they have purchased a lift ticket or stair ticket. The actual count of stairs includes 9 steps to the ticket booth at the base, 328 steps to the first level, 340 steps to the second level and 18 steps to the lift platform on the second level. When exiting the lift at the third level there are 15 more steps to ascend to the upper observation platform. The step count is printed periodically on the side of the stairs to give an indication of progress of ascent. The majority of the ascent allows for an unhindered view of the area directly beneath and around the tower although some short stretches of the stairway are enclosed.

Maintenance of the tower includes applying 50 to 60 tonnes of paint every seven years to protect it from rust. In order to maintain a uniform appearance to an observer on the ground, three separate colors of paint are used on the tower, with the darkest on the bottom and the lightest at the top. On occasion the colour of the paint is changed; the tower is currently painted a shade of brownish-grey. On the first floor there are interactive consoles hosting a poll for the colour to use for a future session of painting. The co-architects of the Eiffel Tower are Emile Nouguier, Maurice Koechlin and Stephen Sauvestre.

Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Eiffel_Tower

Monday, May 11, 2009

Danau Toba

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.

Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.

Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Toba

Wednesday, May 6, 2009

Info Wisata di Palembang

Berikut adalah adalah beberapa tempat wisata yang layak Anda kunjungi ketika Anda berada di Kota Palembang yang merupakan kota tua peninggalan Kerajaan Sriwijaya:
  • Jembatan Ampera
  • Benteng Kuto Besak (BKB)
  • Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II
  • Hutan Wisata Punti Kayu
  • Bukit Siguntang

Friday, April 24, 2009

Danau Ranau

Danau Ranau adalah danau terbesar kedua di Sumatera. Danau ini terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung dan Kabupaten OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan. Danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Terletak pada posisi 4°51′45″bujur selatan dan 103°55′50″bujur timur.

Secara geografis topografi danau ranau adalah perbukitan yang berlembah hal ini praktis menjadikan danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk.

Danau Ranau sering digunakan oleh para nelayan untuk mencari ikan seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan. Danau ini juga berfungsi sebagai kota wisata yg menakjubkan,. Di sana banyak sekali pemandangan yg indah, tepat ditengahnya terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas yg sering digunakan para penduduk setempat ataupun para wisatawan yg datang ke pulau tersebut, terdapat air terjun, dan penginapan PT. Pusri. Danau ini juga menjadi objek wisata andalan dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, terutama pada musim liburan tiba dan hari raya idul fitri.

Pada 2007 kemarin telah diresmikan oleh Bupati Lam-bar, pusat wisata baru di wilayah Lombok Kecamatan Sukau Kabupaten Lampung barat yang dilengkapi Hotel bertaraf Bintang 3 yang berfasilitas lengkap. Maka ini cocok untuk tempat berwisata bagi keluarga besar anda.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Ranau

Wednesday, April 1, 2009

Pantai Parang Tritis

Parang Tritis adalah sebuah tempat pariwisata berupa pantai yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta. Objek wisata ini sangat terkenal di yogyakarta. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai.


Pada 27 Juli 2008 saya beserta saudara dan keponakan-keponakan saya mempunyai kesempatan untuk menikmati suasana Pantai Parang Tritis ini. Siang itu udaranya begitu panas. Ciri khas udara pantai. Angin berhembus dengan kencang. Pasir berwarna abu-abu tersebar di sana sini, begitu tebal sehingga banyak pengunjung yang merasa kesulitan untuk berjalan. Bahkan ada beberapa pengunjung yang terjebak karena kakinya tertanam agak dalam di dalam pasir-pasir tersebut. Dari kejauhan saya lihat gulungan-gulungan ombak besar menghantam pantai. Anak-anak bermain pasir, berguling-gulingan di pasir basah, bekejar-kejaran, dan saling memercikkan air ke wajah teman atau saudaranya. Sementara itu, beberapa kuda atau dokar sewaan berjalan menyisiri lepas pantai, membawa penumpangnya menikmati suasana pantai dari dekat.


Sayangnya, menurut pengamatan saya, pantai ini belum dikelola secara baik. Suasana sekitar pantai terlihat tidak begitu rapi. Belum lagi tempat parkirnya yang tidak dikelola secara profesional. Mudah-mudahan suasana pantai ini dapat berubah menjadi lebih baik sehingga lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke pantai ini.




Monday, March 16, 2009

Candi Borobudur


Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar. Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur

Saturday, February 7, 2009

Candi Prambanan

Candi Rara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

Pada tahun 1733 Masehi, candi ini ditemukan oleh C.A Lons seorang berkebangsaan Belanda, kemudian pada tahun 1855 Masehi Izerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. Beberapa saat kemudian Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang sungai Opak. Pada 1902-1903 Van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis, sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali.Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993.

Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.

Sekarang, candi ini adalah sebuah situs yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan.

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m. Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil. Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta. Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya. Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu. Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu Lingga batara Siwa, sebagai lambang kesuburun.

Sumber: Wikipedia

Sunday, August 31, 2008

Mengunjungi Taman Wisata Kyai Langgeng



Rabu 30 Juli 2008 saya beserta keluarga berkunjung ke Taman Wisata Kyai Langgeng di Magelang. Karena hari itu hari libur nasional, banyak sekali pengunjung yang datang, mulai dari anak-anak TK hingga orang tua.


Taman Wisata Kyai Langgeng memiliki area yang sangat luas sehingga para pengunjung bisa leluasa untuk pergi kesana kemari menikmati pemandangan atau menggunakan fasilitas yang diberikan. Bagi para pengunjung yang suka naik komedi putar, bianglala, roller coaster, atau bebek air, semua fasilitas tersebut disediakan oleh taman wisata ini. Dengan lokasi geografis yang berbukit-bukit, para pengunjung bisa melihat pemandangan atau suasana di atas dan di bawahnya dengan begitu leluasa. Bagi penyandang cacat yang menggunakan kursi roda atau ibu-ibu yang membawa bayi menggunakan kereta dorong, mereka tidak perlu khawatir sebab, selain menggunakan jalan berupa anak tangga, taman wisata ini juga dilengkapi dengan jalan-jalan rata sehingga memudahkan kursi roda atau kereta dorong bayi untuk melewatinya. Hal ini perlu dicontoh oleh taman-taman wisata lain.


Taman Wisata Kyai Langgeng memang merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mencari hiburan atau sekadar untuk refreshing. Taman wisata ini dilengkapi pula dengan perpustakaan, musholla, bangku-bangku tempat para pengunjung beristirahat sejenak, dan sebagainya. Bagi mereka yang ingin berkeliling tanpa harus merasakan kelelahan berjalan, mereka bisa naik mobil khusus yang sudah disediakan oleh pengelola taman wisata ini dengan membayar sejumlah uang tertentu.


Para pengunjung taman wisata ini nampaknya tidak hanya berasal dari Magelang, tetapi juga dari berbagai daerah lain. Itu bisa saya lihat dari mobil-mobil atau bis-bis pariwisata yang datang dengan menggunakan plat kendaraan yang berbeda-beda. Yang menarik adalah, ketika saya berkunjung ke taman wisata ini, ada beberapa guru yang membawa murid-murid TK atau SD dan mengajarkan mereka beberapa hal, misalnya tentang kebersihan, tentang alam, atau tentang tumbuhan. Cara ini tentu saja bisa membuat proses belajar menjadi lebih menarik.

Blogger Templates by OurBlogTemplates.com 2007