Friday, April 24, 2009

Danau Ranau

Danau Ranau adalah danau terbesar kedua di Sumatera. Danau ini terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung dan Kabupaten OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan. Danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Terletak pada posisi 4°51′45″bujur selatan dan 103°55′50″bujur timur.

Secara geografis topografi danau ranau adalah perbukitan yang berlembah hal ini praktis menjadikan danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk.

Danau Ranau sering digunakan oleh para nelayan untuk mencari ikan seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan. Danau ini juga berfungsi sebagai kota wisata yg menakjubkan,. Di sana banyak sekali pemandangan yg indah, tepat ditengahnya terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas yg sering digunakan para penduduk setempat ataupun para wisatawan yg datang ke pulau tersebut, terdapat air terjun, dan penginapan PT. Pusri. Danau ini juga menjadi objek wisata andalan dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, terutama pada musim liburan tiba dan hari raya idul fitri.

Pada 2007 kemarin telah diresmikan oleh Bupati Lam-bar, pusat wisata baru di wilayah Lombok Kecamatan Sukau Kabupaten Lampung barat yang dilengkapi Hotel bertaraf Bintang 3 yang berfasilitas lengkap. Maka ini cocok untuk tempat berwisata bagi keluarga besar anda.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Ranau

Wednesday, April 1, 2009

Pantai Parang Tritis

Parang Tritis adalah sebuah tempat pariwisata berupa pantai yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta. Objek wisata ini sangat terkenal di yogyakarta. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai.


Pada 27 Juli 2008 saya beserta saudara dan keponakan-keponakan saya mempunyai kesempatan untuk menikmati suasana Pantai Parang Tritis ini. Siang itu udaranya begitu panas. Ciri khas udara pantai. Angin berhembus dengan kencang. Pasir berwarna abu-abu tersebar di sana sini, begitu tebal sehingga banyak pengunjung yang merasa kesulitan untuk berjalan. Bahkan ada beberapa pengunjung yang terjebak karena kakinya tertanam agak dalam di dalam pasir-pasir tersebut. Dari kejauhan saya lihat gulungan-gulungan ombak besar menghantam pantai. Anak-anak bermain pasir, berguling-gulingan di pasir basah, bekejar-kejaran, dan saling memercikkan air ke wajah teman atau saudaranya. Sementara itu, beberapa kuda atau dokar sewaan berjalan menyisiri lepas pantai, membawa penumpangnya menikmati suasana pantai dari dekat.


Sayangnya, menurut pengamatan saya, pantai ini belum dikelola secara baik. Suasana sekitar pantai terlihat tidak begitu rapi. Belum lagi tempat parkirnya yang tidak dikelola secara profesional. Mudah-mudahan suasana pantai ini dapat berubah menjadi lebih baik sehingga lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke pantai ini.




Monday, March 16, 2009

Candi Borobudur


Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar. Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur

Saturday, February 7, 2009

Candi Prambanan

Candi Rara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

Pada tahun 1733 Masehi, candi ini ditemukan oleh C.A Lons seorang berkebangsaan Belanda, kemudian pada tahun 1855 Masehi Izerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. Beberapa saat kemudian Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang sungai Opak. Pada 1902-1903 Van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis, sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali.Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993.

Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.

Sekarang, candi ini adalah sebuah situs yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan.

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m. Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil. Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta. Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya. Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu. Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu Lingga batara Siwa, sebagai lambang kesuburun.

Sumber: Wikipedia

Friday, January 2, 2009

Petronas Twin Towers

The Petronas Twin Towers (also known as the Petronas Towers or Twin Towers), in Kuala Lumpur, Malaysia were the world's tallest buildings, before being surpassed by the Taipei 101. However, the towers are still the tallest twin buildings and office building in the world. Tower 1 was built by Hazama Corporation and Tower 2 by Samsung Engineering & Construction and Kukdong Engineering & Construction (both of South Korea). They were the world's tallest buildings from 1998 to 2004 if measured from the level of the main entrance to the structural top, the original height reference used by the US-based Council on Tall Buildings and Urban Habitat from 1969 (three additional height categories were introduced as the tower neared completion in 1996).D

Designed by Argentine-American architect César Pelli, the Petronas Towers were completed in 1998 and became the tallest buildings in the world on the date of completion. They were built on the site of Kuala Lumpur's race track. Because of the depth of the bedrock, the buildings were built on the world's deepest foundations. The 120-meter foundations were built by Bachy Soletanche, and required massive amounts of concrete.


The 88-floor towers are constructed largely of reinforced concrete, with a steel and glass facade designed to resemble motifs found in Islamic art, a reflection of Malaysia's Muslim religion. Another Islamic influence on the design is that the cross-section of the towers is based on a Rub el Hizb (albeit with circular sectors added to meet office space requirements).


In an unusual move, a different construction company was hired for each of the towers. Tower 1 was successfully completed by Hazama Corporation. The builders of Tower 2, Samsung Engineering & Construction and Kukdong Engineering (both of South Korea) found a problem during the construction, the tower was estimated to lean 25 mm on the ground with its own weight. The Tower 2 construction team succeeded one month earlier than tower 1.


Due to a lack of steel and the huge cost of importing steel, the towers were constructed on a cheaper radical design of super high-strength reinforced concrete. High-strength concrete is a material familiar to Asian contractors and twice as effective as steel in sway reduction; however, it makes the building twice as heavy on its foundation than a comparable steel building. Supported by 23-by-23 meter concrete cores and an outer ring of widely-spaced super columns, the towers use a sophisticated structural system that accommodates its slender profile and provides from 1300 to 2000 square metres of column-free office space per floor.Below the twin towers is Suria KLCC, a shopping mall, and Dewan Filharmonik Petronas, the home of the Malaysian Philharmonic Orchestra.


Other buildings have used spires to increase their height but have always been taller overall to the pinnacle when trying to claim the title. In the aftermath of the controversy, the rules governing official titles were partially overhauled, and a number of buildings re-classified structural antenna as architectural details to boost their height rating (even though nothing was actually done to the building).

Source: Wikipedia

Saturday, December 6, 2008

Jembatan Ampera


Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Panjang jembatan ini 1.117 m (bagian tengah 71,90 m), lebar 22 m, tinggi 11.5 m dari permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah, jarak antara menara 75 m, dan berat 944 ton.


Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut. Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.


Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.


Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit. Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.


Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.

Sumber: Jembatan Ampera. (2008, Oktober 23). Wikipedia, . Diakses pada 19:04, Desember 5, 2008 dari http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jembatan_Ampera&oldid=1771500.


Saturday, September 13, 2008

Kembali ke Palembang

Setelah dua minggu tinggal di Pulau Jawa, tepatnya di Yogyakarta dan Magelang, akhirnya pada 5 Agustus 2008 saya kembali ke Palembang karena semua urusan telah selesai. Ketika pesawat yang saya tumpangi terbang di atas Kota Palembang menuju tempat pendaratan, saya bisa menikmati suasana kota dari atas. Saya sudah begitu akrab dengan kota 'empek-empek' ini.

Saat keluar dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II kembali saya merasakan udara panas. Ini sangat berbeda sekali dengan keadaan cuaca di Yogyakarta dan Magelang yang begitu dingin. Wajar saja karena kedua daerah ini dikelilingi oleh gunung. Makanya... selama tinggal di daerah Yogyakarta dan Magelang, saya selalu mengenakan jaket untuk melindungi tubuh dari dinginnya udara. Walaupun saya sudah beberapa kali mengunjungi Yogyakarta dan Magelang, saya masih belum terbiasa dengan keadaan cuacanya. Ah... Kapan ya ke Yogyakarta dan Magelang lagi???

Sunday, August 31, 2008

Mengunjungi Taman Wisata Kyai Langgeng



Rabu 30 Juli 2008 saya beserta keluarga berkunjung ke Taman Wisata Kyai Langgeng di Magelang. Karena hari itu hari libur nasional, banyak sekali pengunjung yang datang, mulai dari anak-anak TK hingga orang tua.


Taman Wisata Kyai Langgeng memiliki area yang sangat luas sehingga para pengunjung bisa leluasa untuk pergi kesana kemari menikmati pemandangan atau menggunakan fasilitas yang diberikan. Bagi para pengunjung yang suka naik komedi putar, bianglala, roller coaster, atau bebek air, semua fasilitas tersebut disediakan oleh taman wisata ini. Dengan lokasi geografis yang berbukit-bukit, para pengunjung bisa melihat pemandangan atau suasana di atas dan di bawahnya dengan begitu leluasa. Bagi penyandang cacat yang menggunakan kursi roda atau ibu-ibu yang membawa bayi menggunakan kereta dorong, mereka tidak perlu khawatir sebab, selain menggunakan jalan berupa anak tangga, taman wisata ini juga dilengkapi dengan jalan-jalan rata sehingga memudahkan kursi roda atau kereta dorong bayi untuk melewatinya. Hal ini perlu dicontoh oleh taman-taman wisata lain.


Taman Wisata Kyai Langgeng memang merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mencari hiburan atau sekadar untuk refreshing. Taman wisata ini dilengkapi pula dengan perpustakaan, musholla, bangku-bangku tempat para pengunjung beristirahat sejenak, dan sebagainya. Bagi mereka yang ingin berkeliling tanpa harus merasakan kelelahan berjalan, mereka bisa naik mobil khusus yang sudah disediakan oleh pengelola taman wisata ini dengan membayar sejumlah uang tertentu.


Para pengunjung taman wisata ini nampaknya tidak hanya berasal dari Magelang, tetapi juga dari berbagai daerah lain. Itu bisa saya lihat dari mobil-mobil atau bis-bis pariwisata yang datang dengan menggunakan plat kendaraan yang berbeda-beda. Yang menarik adalah, ketika saya berkunjung ke taman wisata ini, ada beberapa guru yang membawa murid-murid TK atau SD dan mengajarkan mereka beberapa hal, misalnya tentang kebersihan, tentang alam, atau tentang tumbuhan. Cara ini tentu saja bisa membuat proses belajar menjadi lebih menarik.

Blogger Templates by OurBlogTemplates.com 2007