Saturday, December 6, 2008

Jembatan Ampera


Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Panjang jembatan ini 1.117 m (bagian tengah 71,90 m), lebar 22 m, tinggi 11.5 m dari permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah, jarak antara menara 75 m, dan berat 944 ton.


Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut. Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.


Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.


Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit. Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.


Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.

Sumber: Jembatan Ampera. (2008, Oktober 23). Wikipedia, . Diakses pada 19:04, Desember 5, 2008 dari http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jembatan_Ampera&oldid=1771500.


Saturday, September 13, 2008

Kembali ke Palembang

Setelah dua minggu tinggal di Pulau Jawa, tepatnya di Yogyakarta dan Magelang, akhirnya pada 5 Agustus 2008 saya kembali ke Palembang karena semua urusan telah selesai. Ketika pesawat yang saya tumpangi terbang di atas Kota Palembang menuju tempat pendaratan, saya bisa menikmati suasana kota dari atas. Saya sudah begitu akrab dengan kota 'empek-empek' ini.

Saat keluar dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II kembali saya merasakan udara panas. Ini sangat berbeda sekali dengan keadaan cuaca di Yogyakarta dan Magelang yang begitu dingin. Wajar saja karena kedua daerah ini dikelilingi oleh gunung. Makanya... selama tinggal di daerah Yogyakarta dan Magelang, saya selalu mengenakan jaket untuk melindungi tubuh dari dinginnya udara. Walaupun saya sudah beberapa kali mengunjungi Yogyakarta dan Magelang, saya masih belum terbiasa dengan keadaan cuacanya. Ah... Kapan ya ke Yogyakarta dan Magelang lagi???

Sunday, August 31, 2008

Mengunjungi Taman Wisata Kyai Langgeng



Rabu 30 Juli 2008 saya beserta keluarga berkunjung ke Taman Wisata Kyai Langgeng di Magelang. Karena hari itu hari libur nasional, banyak sekali pengunjung yang datang, mulai dari anak-anak TK hingga orang tua.


Taman Wisata Kyai Langgeng memiliki area yang sangat luas sehingga para pengunjung bisa leluasa untuk pergi kesana kemari menikmati pemandangan atau menggunakan fasilitas yang diberikan. Bagi para pengunjung yang suka naik komedi putar, bianglala, roller coaster, atau bebek air, semua fasilitas tersebut disediakan oleh taman wisata ini. Dengan lokasi geografis yang berbukit-bukit, para pengunjung bisa melihat pemandangan atau suasana di atas dan di bawahnya dengan begitu leluasa. Bagi penyandang cacat yang menggunakan kursi roda atau ibu-ibu yang membawa bayi menggunakan kereta dorong, mereka tidak perlu khawatir sebab, selain menggunakan jalan berupa anak tangga, taman wisata ini juga dilengkapi dengan jalan-jalan rata sehingga memudahkan kursi roda atau kereta dorong bayi untuk melewatinya. Hal ini perlu dicontoh oleh taman-taman wisata lain.


Taman Wisata Kyai Langgeng memang merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mencari hiburan atau sekadar untuk refreshing. Taman wisata ini dilengkapi pula dengan perpustakaan, musholla, bangku-bangku tempat para pengunjung beristirahat sejenak, dan sebagainya. Bagi mereka yang ingin berkeliling tanpa harus merasakan kelelahan berjalan, mereka bisa naik mobil khusus yang sudah disediakan oleh pengelola taman wisata ini dengan membayar sejumlah uang tertentu.


Para pengunjung taman wisata ini nampaknya tidak hanya berasal dari Magelang, tetapi juga dari berbagai daerah lain. Itu bisa saya lihat dari mobil-mobil atau bis-bis pariwisata yang datang dengan menggunakan plat kendaraan yang berbeda-beda. Yang menarik adalah, ketika saya berkunjung ke taman wisata ini, ada beberapa guru yang membawa murid-murid TK atau SD dan mengajarkan mereka beberapa hal, misalnya tentang kebersihan, tentang alam, atau tentang tumbuhan. Cara ini tentu saja bisa membuat proses belajar menjadi lebih menarik.

Saturday, August 30, 2008

Perjalanan ke Magelang

Minggu sore 27 Juli 2008 saya berangkat ke Magelang setelah sebelumnya menginap di Yogya selama 5 hari. Kebetulan saudara saya ada yang tinggal di Magelang, tepatnya di kompleks perumahan tentara tak jauh dari lokasi Akademi Militer. Udaranya begitu dingin karena daerah ini dikelilingi oleh beberapa gunung. Ketika berjalan-jalan keliling kompleks, saya sempat memotret pemandangan gunung dengan kamera HP saya. Pemandangan begitu indah walaupun gunung tidak tampak jelas karena diselimuti oleh kabut sore.

Magelang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah dan posisinya terletak di perbatasan Jawa Tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di dunia pendidikan, kota ini sangat terkenal dengan Akademi Militer-nya yang telah melahirkan para perwira tangguh. Selain itu terdapat juga sekolah yang sangat terkenal yaitu SMA Taruna Nusantara.


Selain menikmati pemandangan yang indah, saya beserta keluarga juga sempat mengunjungi tempat wisata Kyai Langgeng yang sangat indah dan terkenal. Pengunjung begitu ramai karena hari itu adalah hari libur nasional (30 Juli 2008). Setelah puas menikmati suasana tempat wisata tersebut, kami pun pulang. Sore harinya kami kembali ke Yogyakarta.

Thursday, August 28, 2008

Perjalanan ke Yogya

Selasa 22 Juli 2008 pukul 14.15 pesawat Lion Air membawa saya beserta para penumpang lainnya ke Jakarta. Tujuan perjalanan saya adalah Yogya. Namun, saya harus transit terlebih dahulu di Jakarta. Perjalanan dari Palembang ke Jakarta ditempuh dalam waktu 50 menit. Selama masa transit di Jakarta, saya memanfaatkan waktu untuk menelpon saudara-saudara dan teman saya. Lalu saya menyalakan laptop, mencoba mencari hotspot untuk sekadar melihat-lihat blog. Tapi saya kecewa sekali karena sinyal hotspot yang saya terima sangat lemah sehingga saya gagal melakukan koneksi. Ini berbeda sekali ketika saya menunggu pesawat di ruang tunggu bandara di Palembang. Sinyal hotspot sangat kuat dan saya bisa browsing sembari menantikan waktu keberangkatan.

Pukul 17.00 saya sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa para penumpang ke Yogya. Perjalanan udara dari Palembang ke Yogya ini sangat lancar. Tidak ada halangan apapun. Apalagi cuaca sangat cerah. Dari dalam pesawat saya bisa melihat gumpalan-gumpalan awan putih di bawah.

Lima puluh menit kemudian pesawat sudah tiba di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Saudara-saudara saya beserta keponakan-keponakan saya sudah menunggu di ruang tunggu bandara tersebut. Ah… akhirnya saya berada di Yogya lagi! Sudah 7 tahun tidak mengunjungi Yogya. Sebelumnya saya telah beberapa kali datang ke Daerah Istimewa ini.

Senang sekali rasanya bisa bertemu dan berkumpul kembali bersama saudara-saudara dan keponakan-keponakan. Kami berbincang, bercanda, dan bernyanyi. Kami juga sempat melihat beberapa sudut daerah Yogyakarta. Banyak sekali perubahan yang terjadi dibandingkan 7 tahun yang lalu.

Minggu 27 Juli 2008 kami mengunjungi Pantai Parang Tritis atau yang lebih dikenal sebagai Paris. Pada awalnya saya bingung ketika keponakan saya mengajak saya ke Paris. Saya belum nyambung. Akhirnya keponakan saya menjelaskan bahwa Paris itu singkatan dari Parang Tritis. Macam-macam saja! Kalau di Palembang Paris berarti ‘parak sinilah’ (atau dalam bahasa Indonesia ‘dekat sinilah’). Di Pantai Parang Tritis ini saya bisa melihat ombak besar bergulung-gulung. Selama ini saya cuma bisa menyaksikan ombak Parang Tritis di televisi. Gundukan-gundukan pasir ada di sana-sini. Anak-anak, termasuk keponakan saya, bermain-main di pantai sehingga tubuhnya basah dan kotor karena dipenuhi pasir. Pantai Parang Tritis adalah salah satu objek wisata yang potensial. Tapi sayangnya… menurut saya tempat wisata ini belum dikelola dengan baik. Peran pemerintah daerah sangat diperlukan agar tempat wisata ini terlihat lebih indah dan rapi.

Saturday, March 1, 2008

Welcome to Tourism & Travel

WELCOME TO TOURISM & TRAVEL
In this blog you will get some information on tourist objects in Indonesia and in the world, popular building, landmarks, traveling stories, etc.

Blogger Templates by OurBlogTemplates.com 2007